Rabu, 12 Januari 2011

“INTERPRETASI ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES PADA PATUNG RUDI MANTOVANI”

Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Karya Rudi Mantovani


PENDAHULUAN

Karya patung Rudi yang berjudul ”Nada yang Hilang” adalah karya patung yang ditandai oleh sebuah gitar elektrik. Pada karya ini, terlihat kemampuan Rudi dalam menata tanda-tanda yang begitu kompleks. Pengkodean yang diterapkan Rudi pada karyanya bukanlah pengkodean yang telah disepakati secara konvensi, inilah daya tarik yang luar biasa pada karya patung Rudi ”Nada yang Hilang”, sehingga penulis menganggap penting untuk mengkaji tanda pada karya ini.

Analisis tanda pada karya patung Rudi tersebut di atas, menggunakan analisis interpretasi. Analisis interpretasi digunakan untuk mengetahui makna-makna yang mungkin tersembunyi dibalik tanda-tanda yang ditampilkan oleh Rudi pada karyanya. Pencarian makna melalui tanda-tanda, diperlukan suatu pendekatan cara baca tanda. Penulis menggunakan pendekatan semiotika semantik yang ditawarkan oleh Roland Barthes.

Analisis tanda yang akan dilakukan melalui pembacaan tanda yang ditawarkan oleh Roland Barthes hanya dibatasi pada poin-poin seperti di bawah ini:

1. sistem dan sintagma pada karya Rudi “Nada yang Hilang”.

2. Konteks tanda dan relasi antar tanda; metafora dan metonimi pada karya Rudi “Nada yang Hilang”.

3. Tingkatan pertandaan; makna denotasi dan makna konotasi pada karya Rudi “Nada yang Hilang”.



PEMBAHASAN

Gambar 1.
Rudi Mantovani, ”Nada yang Hilang”, 2006.
Kayu, cat, logam. 70 x 45 x 75 cm.1
(photo: repro photo Rajudin 2011).

Karya patung Rudi ”Nada yang Hilang” ini, adalah salah satu dari sekian banyak karya patung Rudi seri alat musik. Rudi mencoba mengeksplorasi sebuah gitar elektrik. Rudi telah banyak menghasilkan karya patung dengan acuan visual yang sama dengan wujud yang sangat beragam, sesuai dengan keinginana dan konsep karya yang hendak disampaikan oleh Rudi.

”Nada yang Hilang” adalah sebuah tanda oleh Rudi Mantovani untuk karya patungnya yang terlihat pada gambar 1 di atas. Gitar elektrik sebagai penanda bagi Rudi untuk menyampaikan petanda sebuah nada yang hilang. Bentuk gitar elektrik di buat sama persis dengan material gitar yang sesungguhnya. Begitu juga dengan organ dan kelengkapan elemen-elemen penghasil bunyinya. Namun wujud yang ditampilkan Rudi berbeda dari wujud sebuah gitar elektrik yang sesungguhnya. Rudi melakukan deformasi bentuk dengan membengkokkan body sampai ujung neck menjadi melengkung hiperbola dengan sempurna. Penanda yang demikian sangat unik, ada petanda yang khusus yang ingin dipersoalkan oleh Rudi. Gitar diberi warna merah mengkilap, sebuah tanda yang disuguhkan untuk ditafsir dengan segenap perhatian.

Sebelum masuk pada tahap analisis semiotika pada karya Rudi, terlebih dahulu kita melihat anatomi dari sebuah gitar elektrik (dari segi organologinya), agar dapat diketahui nama bagian-bagian dari sebuah gitar elektrik. Hal ini sangat diperlukan, karena dalam analisis akan menggunakan istilah-istilah tentang bagian-bagian dari organ gitar elektrik. Untuk itu dapat dilihat gambar di bawah ini.


Gambar 2.
Nama bagian-bagian anatomi gitar elektrik.2


Gitar elektrik adalah sebuah instrumen kunci sejak ditemukannya pada awal tahun 1940-an. Gitar elektrik adalah sebuah hasil dari kemajuan teknologi modern barat yang telah mendunia. Suara-suara yang dihasilkannya jauh lebih kuat dan bervariasi dibandingkan dengan gitar akustik. Apalagi sekarang ditunjang oleh teknologi sound effect yang canggih, suara yang dihasilkan jauh lebih jernih dan variatif, dan warna suaranya dapat diatur sesuai dengan keinginan gitarisnya. Sejak kemunculannya, gitar elektrik telah merambah ke seluruh dunia. Gitar elektrik telah menjadi sebuah fenomena dan menjadi ikon dari budaya populer yang dihasilkan oleh peradaban barat.

Bagi masyarakat pengguna instrumen gitar elektrik (seniman musik), gitar elektrik berfungsi sebagai media ekspresinya. Melalui gitar elektrik, seniman musik menyampaikan gagasan, ide dan pemikirannya lewat nada-nada yang dimainkan. Gitar elektrik merupakan bagian dari diri senimannya. Seperti ketika seseorang menyebut nama Yngwie Malmsteen, pikiran mengasosiasikannya pada sebuah gitar elektrik dengan permainan yang sangat progresif dan memukau. Begitu juga ketika orang menyebut nama Slash dari Gun’s n Roses ataupun Brian Jones dari The Rolling Stones. Artinya, gitar elektrik tidak hanya menjadi penanda untuk suara, pikiran atau gagasan, gitar elektrik juga sebagai penanda bagi senimannya.

Cukup kiranya sekilas tentang organologi gitar elektrik dan sedikit sejarah dan penggunaannya oleh beberapa seniman terkenal, maka bahasan ini akan dilanjutkan pada analisis terhadap karya Rudi Mantovani yang berjudul “Nada yang Hilang”.

1. sistem dan sintagma.

a. Sistem pada karya Rudi “Nada yang Hilang”.

Sistem adalah perbendaharaan tanda (kata, visual, gambar, benda).3 Di dalam sistem yang dikembangkan oleh Barthes, ada semacam aturan main dimana dalam sebuah sistem hanya ada satu elemen setara yang mungkin hadir atau digunakan dalam waktu yang bersamaan. Sebagai contoh dalam sistem minuman (kopi, teh, susu, jus, dan seterusnya), tidak lazim diminum dalam waktu yang sama. Pilihan hanya mungkin jatuh pada salah satu dari minuman tersebut. Pilihan ini berdasarkan pada kekuatan yang ada pada tanda dan untuk apa tanda itu dimaksudkan.

Dari sekian banyak elemen dari sebuah sistem musik, baik modern atau tradisi, seperti gitar akustik atau yang lazim disebut folk guitar, gitar dari portugal (capaqinho), atau instrumen petik lainnya dari daerah-daerah di Nusantara, seperti keroncong dari Maluku, kacapi dari Sunda atau sasando dari Sulawesi. Rudi hanya tertarik pada sebuah gitar elektrik, sebuah instrumen yang lahir dari kemajuan teknologi peradaban modern. Pilihan Rudi pada salah satu dari instrumen musik ini disebut sebagai sebuah sistem di dalam pertandaan.

Warna merah pada karya Rudi juga dapat dikatakan sebuah sistem dalam pertandaan. Mengapa pilihan jatuh kepada warna merah, mengapa tidak warna yang lain. Ada emosi yang kuat, kemarahan dan kegeraman yang dirasakan Rudi, ditandai oleh warna merah. Kemarahan dan kegeraman yang memuncak, ketegangan yang mencekam, bahaya yang mengancam, masalah urgen yang harus mendapat perhatian.

b. Sintagma pada karya Rudi “Nada yang Hilang”.

Sintagma adalah cara pengkombinasian tanda berdasarkan aturan main (rule) tertentu.4 Tanda-tanda di dalam struktur secara linier berinteraksi sehingga membentuk sebuah makna tertentu. Sintagma dalam sistem pertandaan tidak boleh diabaikan, karena sintagmalah yang memungkinkan pembaca memahami makna. Kalimat “saya pergi ke pasar” adalah sebuah struktur kalimat yang mempunyai aturan tertentu. Pembaca sangat memahami maksud dari kalimat tersebut, karena kalimat tersebut terstruktur menurut kode bahasa yang baku. Dapatkah pembaca memahami ketika saya mengatakan “pasar ke saya pergi”? Alih-alih memahami, akan tetapi yang timbul hanyalah kesalahpahaman dan kekacauan, karena saya mengabaikan rule dalam struktur kalimat. Aturan-aturan inilah yang disebut dengan sintagma.

Gitar elektrik sebagai sebuah instrumen mempunyai aturan-aturan tertentu dalam pembuatannya. Aturan-aturan ini dimaksudkan tidak lain untuk mengoptimalkan fungsinya sebagai sebuah instrumen. Seperti: panjang neck, fingerboard dan body. Jarak pemasangan fret pada fingerbord juga mempunyai aturan-aturan tertentu. Mulai dari fret terjauh dari body sampai dengan fret yang terdekat dengan body tidak dipasang dengan jarak yang sama, ini sangat berhubungan dengan panjang pendeknya string dengan nada yang dihasilkan dan mengacu pada tangga nada yang telah disepakati pada masyarakat barat. Selain itu, string yang direntang dari bridge sampai pada nut tidak boleh menyentuh fret. Dan ketika string ditekan antara fret pertama dengan nut, string tidak boleh menyentuh fret kedua atau seterusnya. Begitu juga dengan bagian-bagian yang lain, semua disusun dan dibentuk menurut pengkodean dan fungsi dari masing-masing elemen, sehingga tercipta sebuah struktur gitar elektrik. Pengkodean ini disebut sintagma pada struktur gitar elektrik.

Pada karya Rudi, aturan-aturan ini didobrak sedemikian rupa. Body sampai pada ujung neck dibuat melengkung hiperbola dengan sempurna. Sehingga string menyentuh bridge pickup dan neck pickup, bahkan seluruh fret. Jika pada fingerboard terdapat 23 fret plus satu nut, maka 24 dikali dengan enam string, menjadi 144 nada akan hilang, lenyap dan tidak berarti apa-apa lagi. Gitar elektrik menjadi kehilangan fungsinya sebagai sebuah instrumen. Sintagma pada “Nada yang Hilang” adalah pendobrakan Rudi terhadap pengkodean yang telah disepakati secara konvensi. Pendobrakan ini adalah sebuah petanda yang dimaksudkan oleh Rudi sebagai perlawanan terhadap realitas.

2. Konteks Tanda

Konteks tanda berkaitan dengan ruang dan waktu, antara penanda memiliki petanda yang berhubungan dengan situasi dan kondisi disaat tanda itu digunakan. Konteks tanda dianalisis dalam rangka melihat fenomena-fenomena yang ditandai seniman pada waktu karya seni diciptakan.

Karya “Nada yang Hilang” diciptakan Rudi pada tahun 2006. Pada saat itu sebuah grup band tengah mengadakan konser amal untuk kemanusiaan di Amerika Serikat. Sementara di belahan dunia yang lain, seperti di Irak dan Afganistan, orang Amerika yang lain sedang melakukan “pembasmian” terhadap kemanusiaan itu sendiri. Ini adalah sebuah paradoks dan ironi. Fenomena ini direspon oleh Rudi dengan cara kesenimanannya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa tanda yang dihadirkan oleh Rudi adalah tanda yang kontekstual.

Kontekstual tanda dalam hal relasinya, tidak hanya dilihat dari relasi antara penanda dengan petanda, tetapi juga relasi antara tanda dengan tanda yang lain (interaksi) dalam konteks yang sama. Ada dua model interaksi tanda yang banyak digunakan yaitu metafora dan metonimi.

a. Metafora pada karya Rudi “Nada yang Hilang”.

Metafora adalah sebuah tanda dari sebuah sistem digunakan untuk menjelaskan makna untuk sistem yang lain.5 Seperti penggunaan metafora panjang tangan menjelaskan makna untuk orang yang suka mencuri. Sama halnya dengan karya Rudi, “Nada yang Hilang” dapat dikatakan sebuah metafora. Karena pada karya ini, Rudi tidak hendak menyampaikan nada yang hilang dalam artian yang sesungguhnya, ada makna dari sistem yang lain yang hendak dijelaskan Rudi melalui “Nada yang Hilang”.

“Nada yang Hilang” adalah sebuah metafora dari ketidak berdayaan sebuah peradaban. Karena yang digunakan adalah sebuah ikon dari peradaban budaya modern barat, maka sistem dari “Nada yang Hilang” memungkinkan untuk menjelaskan sebuah peradaban dari budaya modern barat tersebut. Metafora ini akan menjadi lain, seandainya Rudi menggunakan capaqinho dari Portugal, pikiran orang akan tertuju pada peradaban atau budaya tradisi barat, setidaknya budaya tradisi Portugal. Apalagi yang digunakan Rudi adalah kacapi atau sasando, pasti Rudi ingin mempersoalkan budaya tradisi Indonesia, setidaknya budaya-budaya daerah yang ada di Nusantara.

b. Metonimi pada karya Rudi “Nada yang Hilang”.

Metonimi adalah sebuah tanda diasosiasikan dengan tanda yang lain. Akan tetapi yang menjadi prinsip dalam metonimi yaitu adanya hubungan bagian (part) dari suatu sistem yang dianggap mewakili sistem tersebut secara keseluruhan (whole).6 Seperti bola kaki dipakai sebagai tanda untuk menjelaskan konsep sepakbola secara keseluruhan atau rumah gadang dipakai sebagai tanda untuk menjelaskan konsep budaya Minangkabau secara keseluruhan.

Pada karya Rudi “Nada yang Hilang” dapat dikatakan sebagai metonimi, jika mengasosiasikan penandanya adalah bagian dari konsep musik barat atau malah konsep peradaban modern barat secara keseluruhan. Karena sejak awal penciptaan karyanya, Rudi tidak bermaksud hendak menunjuk pada satu individu, akan tetapi lebih kepada gagasan dan pemikiran masyarakat barat secara komunal.



2. Tingkatan pertandaan

Petanda dengan penanda bukanlah terbentuk secara alamiah, melainkan hubungan yang terbentuk berdasarkan konvensi, dengan demikian, sesungguhnya penanda membuka berbagai peluang petanda atau makna.7 Roland Barthes mengembangkan dua tingkatan pertandaan yaitu denotasi dan konotasi.



a. Makna denotasi pada karya Rudi “Nada yang Hilang”.

Denotasi adalah tingkatan pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda, atau antara tanda dan referensinya dengan realitas, menghasilkan makna yang eksplisit, langsung dan pasti (makna pada apa yang tampak). Dalam tingkat denotasi, antara tanda dan penandanya mempunyai tingkat konvensi yang tinggi. 8

“Nada yang Hilang” adalah sebuah tanda, yang penandanya adalah sebuah gitar elektrik dimana neck dan body-nya dibuat melengkung hiperbola dengan sempurna. Makna denotasi pada karya Rudi, dapat dilihat dari relasi antara bentuk yang ditampilkan (penanda) dengan makna yang menjelaskan tentang nada yang hilang. Bentuk gitar yang dibuat melengkung, jelas memberikan makna yang pasti tentang nada-nada yang hilang pada gitar tersebut. Oleh karena semua string menyentuh bridge pickup dan neck pickup, bahkan seluruh fret, akan mengakibatkan tidak adanya nada-nada yang dapat dimainkan. Artinya, semua nada yang ada pada sebuah instrumen gitar elektrik akan menjadi hilang.



b. Makna konotasi pada karya Rudi “Nada yang Hilang”.

Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan antara penanda dan petanda memiliki makna implisit, tidak langsung atau tidak pasti, sehingga terbuka peluang terhadap berbagai kemungkinan makna. Kemungkinan-kemungkinan makna ini biasanya terbentuk ketika penanda dikaitkan dengan aspek-aspek psikologis seperti emosi, atau keyakinan.9

Melalui karya ini, tentu Rudi tidak hanya akan membicarakan persoalan nada yang hilang pada sebuah instrumen gitar. Namun lebih jauh, ada makna yang tersembunyi, yaitu makna lapis kedua. Pada makna konotatif inilah keistimewaan sebuah karya seni, karena penghayat/ penikmat akan menemukan kekayaan makna yang terkandung di dalamnya. Melalui interpretasinya, penghayat menemukan makna-makna yang berbeda, dan tidak mesti sama antara penghayat yang satu dengan yang lainnya.

Pada karya Rudi “Nada yang Hilang”, dapat diinterpretasikan beberapa makna konotatif, antara lain seperti di bawah ini:

1) Makna kesedihan dan kejengkelan.

Makna kesedihan dan kejengkelan ini dapat dilihat dari wujud visual berupa gitar yang dibuat melengkung. Wujud ini dapat diabstraksi lagi menjadi sebuah garis lengkung (Ç) hiperbola. Garis lengkung hiperbola adalah sebuah tanda yang dapat dimaknai sebagai kesedihan dan kejengkelan. Bentuk ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.



Gambar 3.10
Perbedaan ekspresi berbeda
yang ditandai oleh garis hiperbola dan parabola.
(Rajudin, 2011)


Gambar di atas menunjukkan perbedaan makna yang timbul dari sebuah garis lengkung yang hiperbola dengan garis lengkung yang parabola. Pada gambar pertama (1), asosiasi yang muncul adalah tentang kesenangan dan keceriaan, sedangkan gambar kedua (2), asosiasi yang muncul adalah kesedihan dan kejengkelan.

Makna kesedihan dan kejengkelan bisa berupa keprihatinan dan kelirihan serta kejengkelan yang disampaikan oleh Rudi tentang fenomena kemanusiaan yang terjadi, sesuai dengan konteks tanda yang telah diuraikan di atas. “Pembantaian” terhadap rakyat Irak dan Afganistan, dengan alasan penyerangan terhadap wilayah-wilayah yang dianggap lokasi teroris. Namun serangan-serangan itu lebih banyak menciderai rakyat sipil yang tak tahu apa-apa.

2) Makna pertentangan (paradoks).

Jika melihat tanda yang dihadirkan oleh Rudi sebagai metonimi, tentu pikiran akan mengasosiasikannya kepada kumpulan tanda-tanda yang lebih kompleks. Jika tanda itu dikonotasikan sebagai seorang individu, tentu tanda itu diasosiasikan pula sebagai kumpulan dari individu-individu dalam suatu komunitas yang lebih besar. Makna pertentangan itu dapat dilihat ketika sebagian dari komunitas itu tengah menyuarakan tentang nilai-nilai kemanusiaan, tetapi sebagian yang lain malah melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. “Nada-nada yang indah” dan harmoni kehidupan jadi lenyap begitu saja.

Penandaan ini dengan piawai ditunjukkan oleh Rudi. Gitar elektrik yang mampu menghasilkan nada-nada yang melengking, menggelegar, dan menggetarkan itu, dibuat Rudi menjadi tidak berdaya. Rudi melakukannya tidak dengan memotong string, mematahkan neck ataupun menghancurkan bodynya. Tidak ada satupun dari organ gitar itu yang dibuang atau dihilangkan. Akan tetapi Rudi melakukannya dengan merubah pengkodean terhadap neck dan body, menjadi bentuk yang melengkung. Sehingga neck dan body menjadi anti terhadap sistem gitar elektrik secara keseluruhan. Inilah bentuk dari pertentangan yang dimunculkan oleh Rudi pada karyanya.

3) Makna kegagalan sebuah peradaban modern.

Interpretasi makna ini sepertinya agak berlebihan, namun interpretasi ini akan menjadi mungkin apabila diajukan sebuah pertanyaan. Kenapa Rudi mengambil gitar elektrik yang notabene adalah hasil dari sebuah peradaban modern barat sebagai penanda pada karyanya, mengapa tidak capaqinho, kacapi ataupun sasando yang bernuansa tradisi. Dari pertanyaan di atas, menjadi jelas bahwa yang dipersoalkan Rudi adalah peradaban modern bukan yang lain.

Peradaban utopis yang dicita-citakan oleh peradaban modern ternyata gagal total. Negeri impian itu hanya tinggal dalam diskursus-diskursus yang mereka wacanakan. Kemajuan teknologi modern ternyata diluar kendali. Ada yang terlupakan oleh pemikir-pemikir modern. Mereka selalu membicarakan universalitas, tapi mereka lupa akan keunikan lokalitas yang berbeda. Mereka selalu menilai dengan logika, mereka lupa tentang spiritual dan transendental. Mereka mencipta selalu melihat fungsi, akan tetapi mereka lupa akan sesuatu yang hakiki. Mereka lupa akan nilai-nilai yang lebih manusiawi, apalagi nilai-nilai yang bersifat ukhrawi. Sendi-sendi kehidupan inilah yang terlupakan oleh peradaban modern. Peradaban modern ternyata hanya menciptakan “robot-robot” yang individualis dan materialistik, “robot-robot” yang mempertuankan materi dan hawa nafsu belaka.

Kegagalan ini ditandai oleh Rudi dengan penanda sebuah gitar elektrik yang hanya indah jika dipandang, namun tidak dapat difungsikan sebagaimana mestinya. Seperti nilai-nilai yang disuarakan oleh peradaban modern, indah dalam wacana namun tidak dalam realitas. Apalah artinya sebuah gitar, jika tidak ada nada yang dapat dimainkan.


PENUTUP

A. Kesimpulan

Pembacaan tanda-tanda yang dilakukan pada karya Rudi “Nada yang Hilang” di atas, dapat diberikan kesimpulan sebagai berikut:

Gitar elektrik dapat dikatan sebagai sebuah sistem tanda seperti yang ditawarkan oleh Roland Barthes. Sistem tanda yang setara dengan gitar elektrik sebagai sebuah instrumen musik petik adalah seperti: capaqinho, Harpha, Kecapi, atau sasando. Rudi hanya memilih satu dari sederetan sistem tanda yang setara. Pilihan pada salah satu tanda inilah yang disebut dengan Rule pada sistem pertandaan.

Gitar elektrik sebagai sebuah instrumen mempunyai aturan-aturan tertentu dalam pembuatannya. Aturan-aturan ini dimaksudkan tidak lain untuk mengoptimalkan fungsinya sebagai sebuah instrumen. Aturan disusun dan dibentuk menurut pengkodean dan fungsi dari masing-masing elemen, sehingga tercipta sebuah sistem dari sebuah gitar elektrik. Pengkodean dan aturan-aturan main inilah yang disebut dengan sintagma.

Rudi melakukan pendobrakan terhadap sintagma. Pendobrakan ini terlihat pada bodi sampai ujung head gitar yang dibuat melengkung, sehingga gitar elektrik kehilangan fungsinya. Pendobrakan terhadap sintagma dapat dikatakan juga sebagai pendobrakan terhadap fungsi dalam paradigma desain modern yaitu form follow function.

“Nada yang Hilang” adalah sebuah metafora. “Nada yang Hilang” adalah sebuah tanda yang menjelaskan sistem yang lain diluar dirinya. “Nada yang Hilang” adalah sebuah metafora bagi orang perorangan/ individu, sebuah peradaban, atau sebuah negara tertentu di dunia barat.

“Nada yang Hilang” adalah metonimi, karena “Nada yang Hilang” tidak hanya menjelaskan dirinya sebagai sebuah bagian. “Nada yang Hilang” menjelaskan semua suara-suara dari sistem secara lebih luas, lebih besar, baik sebagai kelompok, komunitas, peradaban maupun wilayah.

Makna denotasi pada karya “Nada yang Hilang” adalah makna yang menjelaskan tentang ketiadaan nada pada sebuah gitar elektrik. Sedangkan makna konotasi adalah makna yang bertingkat, secara implisit yang tersembunyi dibalik tanda “Nada yang Hilang”. Makna konotasi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Makna kesedihan dan kejengkelan.

2. Makna pertentangan (paradoks).

3. Makna kegagalan sebuah peradaban.


B. Saran

“Nada yang Hilang” adalah sebuah karya Rudi yang menarik baik dari segi bentuk, isi maupun sajian. Penulis menyarankan kepada pengkaji lain untuk menganalisis karya ini dalam bentuk interaksi analisis, khususnya analisis pada wilayah estetika, baik dari segi bentuk, isi maupun sajiannya.


LAMPIRAN

Daftar Pustaka.

Eco, Umberto. Teori Semiotika, Signifikasi Komunikasi, teori Kode, Serta Teori Produksi-Tanda.        Terjemahan Inyiak Rizwan Muzir. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009.

Piliang, Yasraf Amir. Hipersemiotika, Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra, 2003.

Riwayanto, Doni. Gitar Elektrik, Teknik Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.

Saidi, Acep Iwan. Narasi Simbolik Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Yogyakarta: ISAACBOOK, 2008.

Yangni, Stanislaus. “ Rudi Mantovani: Seni, Fantasi, dan Hidup Sebagai Seniman”, Visual Arts, Anniversary Edition vol.5, No.25. Jakarta: PT Media Visual Arts, 2008.

catatan kaki:

1 Stanislaus Yangni, “ Rudi Mantovani: Seni, Fantasi, dan Hidup Sebagai Seniman”, Visual Arts, Anniversary Edition vol.5, No.25, Juni-Juli 2008 (Jakarta: PT Media Visual Arts), 97.

2 Doni Riwayanto, Gitar Elektrik, Teknik Dasar dan Aplikasinya (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), xi.

3 Yasraf Amir Piliang, op. cit., 260.

4 Ibid.

5 Ibid., 262

6 Ibid.

7 Ibid.,261.

8 Ibid.

9 Ibid..

10 Gambar ini dibuat oleh penulis sendiri untuk kepentingan analisis ini.